بسم الله الرحمن الرحيم
kita sering sekali mendengar kata kata Habib fulan bin fulan bin fulan dalam setiap kajian islam. Penghormatan yang besar yang dilakukan kaum muslimin terhadap mereka. Sampai-sampai sepertinya Habib itu adalah orang yang istimewa sekali hingga tidak boleh kita untuk membantah perintahnya. Di indonesia ini para habib atau habaib biasanya hidup berkelompok dan Habib tersebut memimpin sekelompok manusia.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ تَتَّقُوا اللهَ يَجْعَلْ لَكُمْ فُرْقَانًا
“Hai orang-orang yang beriman, jika kalian bertakwa kepada Allah niscaya Allah akan menjadikan bagi kalian furqan (pembeda).” (Al-Anfal: 29)
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
مَنْ يُرِدِ اللهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّيْنِ
“Barangsiapa yang Allah menginginkan kebaikan kepadanya, niscaya Allah akan menjadikan dia faqih dalam agama.”
مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيْهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ
“Barangsiapa yang berjalan dalam rangka mencari ilmu maka Allah akan mudahkan jalannya menuju surga.”
siapakah Habib?
Habib adalah orang yang mengaku masih memiliki nasab (garis keturunan) hingga Nabi Muhammad صلى ا لله عليه وسلم . kemudian bagaimanakah kedudukannya dalam islam.
Kedudukan dalam islam.
Bagaimanakah Kedudukan Habib dalam islam. Apakah kedudukan mereka sama seperti kedudukan Ahlul Bait, apakah ada perintah untuk mencintai secara khusus kepada Habib tersebut.
Berikut saya kutip dari buku

“Keutamaan Keluarga Nabi صلى ا لله عليه وسلم dari kumpulan riwayat yang shahih – penulis Ummu Syu’aib Al-Wadi’iyyah (Istri Syaikh Muqbil bin Hadi rahimahullah )-Pustaka Ar Rayyan.Siapa sajakah Ahlul bait itu (untuk melihat dalil-dalilnya silahkan lihat buku tersebut)
Allah subhanahu wa ta’ala berfirman yang artinya:
النَّبِيُّ أَوْلَى بِالْمُؤْمِنِينَ مِنْ أَنْفُسِهِمْ وَأَزْوَاجُهُ أُمَّهَاتُهُمْ
“Nabi itu lebih berhak untuk dicintai kaum mukminin daripada diri mereka sendiri, sedangkan istri-istrinya adalah ibu-ibu mereka (kaum mukminin).” (Al Ahzab: 6)
firman Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam surat Al-Ahzab ayat 59:
يَاأَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لِأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلاَبِيبِهِنَّ ذَلِكَ أَدْنَى أَنْ يُعْرَفْنَ فَلاَ يُؤْذَيْنَ وَكَانَ اللهُ غَفُورًا رَحِيمًا
“Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin: ‘Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka’. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
bahwasanya ayat tersebut dengan jelas menyebut istri-istri Nabi صلى ا لله عليه وسلم .
Para Ahlul Bait adalah.
Istri-istri Nabi muhammad صلى ا لله عليه وسلم (lihat surat al Ahzab:28 – 34).mereka adalah:
Istri- istri Nabi زوجات النبي
Khadijah binti Khuwailid (wafat 3 SH)
Zainab binti Khuzaimah (wafat 1 SH)
Aisyah binti Abu Bakar (wafat 57 H)
Hafsah binti Umar (wafat 45 H)
Juwairiah binti Harits bin Abu Dhirar (wafat 56 H)
Maimunah binti Harits (wafat 50 H)
Mariah Qibtiah (wafat 16 H)
Saudah binti Zam`ah (wafat 23 H/ 643 M)
Shafiyyah binti Huyai bin Akhtab (wafat 50 H)
Ummu Habibah binti Abu Sofyan (wafat 44 H)
Ummu Salamah (wafat 57 H)
Zainab binti Jahsy (wafat 20 H)
kemudian setelah istri-istri nabi صلى ا لله عليه وسلم , adalah orang-orang yang drekomendasikan berdasarkan perkataan Nabi Muhammad صلى ا لله عليه وسلم , mereka adalah :
Ali bin Abi Thalib radhiallahu anhu.
Fatimah bintu Muhammad صلى ا لله عليه وسلم .
Hasan bin Ali bin Abi Thalib radhiallahu anhu.
Husain bin Ali bin Abi Thalib radhiallahu anhu.
Ibrahim bin Muhammad صلى ا لله عليه وسلم .
Ja’far bin Abi Thalib radhiallahu anhu.
Abdullah bin Ja’far bin Abi Thalib radhiallahu anhu.
Abbas bin Abdul Muthalib radhiallahu anhu.
Abdullah bin Abbas bin Abdul Muthalib radhiallahu anhu.
Qutstsam bin Abbas bin Abdul Muthalib radhiallahu anhu.
Khadijah bintu Khuwailid radhiallahu anha.
Aisyah bintu Abu bakr as shiddiq radhiallahu anhu.
Zainab bintu Jahsy radhiallahu anha.
Ummu Salamah radhiallahu anha.
Maimunah radhiallahu anha.
Juwairiyah radhiallahu anha.
Saudah bintu Zam’ah radhiallahu anha.
Hafshah bintu Umar bin Khaththab radhiallahu anhu.
Shafiyyah bintu Huyyai radhiallahu anha.
Ummu Habibah Ramlah bintu Abu Sufyan radhiallahu anhu.
Zainab bintu Muhammad صلى ا لله عليه وسلم .
Shafiyyah bibi Muhammad صلى ا لله عليه وسلم .
Ummu Hani bintu Ali bin Abi Thalib radhiallahu anhu.
Al Mahdi, Muhammad bin Abdillah.
Lho…. dimana para habib? ternyata mereka tidak termasuk Ahlul Bait yang direkomendasikan oleh Allah, bahwasanya Allah telah menyebut para istri Nabi muhammad صلى ا لله عليه وسلم (lihat surat al Ahzab:28 – 34). ,serta Rasululllah صلى ا لله عليه وسلم tidak merekomendasikan mereka para Habib tersebut.
Ahlul bait yang khusus diperintahkan oleh Nabi Muhammad صلى ا لله عليه وسلم untuk memuliakan mereka adalah mereka yang namanya disebut-sebut dari riwayat Hadits yang shahih (lihat di atas).
Sedangkan secara umum, Ahlul bait tersebut adalah orang yang kita cintai dan muliakan mereka semata-mata karena iman dan kekerabatan mereka dengan Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata: “Dan tidak ragu lagi bahwa mencintai Ahlul Bait adalah wajib.” Al-Qadhi ‘Iyadh rahimahullah berkata: “Dan termasuk memuliakan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah berbuat baik kepada keluarga dan keturunan beliau.”
Para sahabat adalah orang-orang yang sangat memuliakan Ahlul Bait baik dari kalangan para sahabat sendiri maupun para tabi’in.
Demikianlah hendaknya sikap seorang muslim kepada mereka. Wajib atas dirinya untuk mencintai, menghormati, memuliakan dan tidak menyakiti mereka.
Namun sudah barang tentu, tolok ukur kecintaan terhadap mereka semata-mata karena iman dan kekerabatan mereka dengan Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tanpa iman tidak akan bermanfaat sama sekali kekerabatan seseorang dengan Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman yang artinya:
“Yaitu di hari (hari kiamat) yang harta dan anak keturunan tidak lagi bermanfaat. Kecuali seseorang yang menghadap Allah dengan hati yang lurus.” (Asy-Syu’ara`:88-89)
Demikian pula bila ada Ahlul Bait yang jauh dari sunnah Rasul, maka martabatnya di bawah seseorang yang berpegang teguh dengan sunnah Rasul, walaupun dia bukan Ahlul Bait. Allah berfirman yang artinya:
“Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa.” (Al-Hujurat:13)
Kemudian terkadang para Habib tersebut terkadang menebarkan syubhat (keragu-raguan) pada kaum muslimin bahwa mereka adalah Ahlul Bait, namun kita katakan kepada mereka bahwa Abu Lahab yang kafir dan memerangi Nabi Muhammad صلى ا لله عليه وسلم itu adalah pamannya sendiri.
Para Habib itu mereka adalah Ahlul Bait masuk dalam kategori yang umum (termasuk didalamnya Abu Lahab), bukan termasuk Ahlul Bait yang khusus di rekomendasikan oleh Allah dan juga direkomendasikan oleh Nabi Muhammad صلى ا لله عليه وسلم .
Jadi kedudukan Habib tidak ada keistimewaan tersendiri dan mereka tidaklah ma’shum (terjaga dari dosa), serta tidak dapat merubah syariat ini. Kedudukan mereka akan terangkat dengan keimanan mereka . kita cintai dan muliakan mereka semata-mata karena iman dan kekerabatan mereka dengan Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Bahkan dalam beberapa contoh kasus, kita ada beberapa Habib yang jauh dan menyimpang dari sunnah Nabi صلى ا لله عليه وسلم . Bukannya mengajarkan kepada manusia untuk melakukan amalan-amalan yang dilakukan dan diajarkan oleh Nabi Muhammad صلى ا لله عليه وسلم namun amalan-amalan baru yang membuat orang-orang menjauhi sunnah Nabi nyaصلى ا لله عليه وسلم.
Kita sangsi apakah Nasab mereka sampai kepada Nabi Muhammad صلى ا لله عليه وسلم , karena kita dapati diantara mereka saling menjual “Sertifikat Nasab” sehingga dikalangan mereka juga terdapat Habib palsu.
Untuk itulah kita harus berhati-hati ,tidak boleh berlebih-lebihan untuk memuliakan seseorang.
Wahai Habib bila engkau adalah termasuk Ahlul bait,
tinggalkan julukan yang engkau sandang,
Julukan yang membuat hati menjadi sombong.
Julukan yang tidak pernah dicontohkan oleh Nabi kami shallallahu ‘alaihi wa sallam, juga tidak pernah ada contohnya di generasi sebaik-baik manusia yaitu masa sahabat, tabi’in dan tabiut tabiin
Tunjukkan keimananmu.
Ajarkanlah kepada kaum muslimin untuk mengenal Allah dan mengenal Rasul-Nya . Ajarkanlah manusia untuk bertauhid.
Ajarkankanlah kami Al-Qur’an dan As-Sunnah as-shahihah dengan pemahaman para pendahulu yang sholeh.
Ajarkanlah kami, Sunnah Nabi kami shallallahu ‘alaihi wa sallam bukan ajaran baru yang tidak pernah dicontohkan oleh Nabi kami shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Ajarkankan kami menjadi orang yang ittiba (mengikuti) kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, jangan jadikan kami orang yang taklid kepada seseorang, Karena tidak ada orang yang Ma’shum kecuali Nabi.
Ingatlah Kalam Allah Azza wa jalla:”Yaitu di hari (hari kiamat) yang harta dan anak keturunan tidak lagi bermanfaat. Kecuali seseorang yang menghadap Allah dengan hati yang lurus.” (Asy-Syu’ara`:88-89)
Barokallahu fikum…
baca juga
Membongkar kesesatan Syi’ah : Benci pada Istri Nabi
Mahdi, yang Diimani dan Dinanti
Khilafah tidak harus ada pada Ahlul Bait
Filed under: Al-Islam, Nasihat , Ahlul Bait, Habib



















setuju….
Kita mesti berhati-hati dalam memuliakan seseorang.
Khwatir…dan khwatir jangan-jangan ternyata orang yang bodoh yang kita muliakan.
Untuk itu kita mesti belajar ilmu syar’i, agar jangan sampai kita “ditipu” dari orang yang seolah-olah memuliakan islam dan membela agama ini, ternyata orang tersebut justru merendahkan islam dan amalannya tidak sesuai dengan Al-Quran dan Sunnah. Selain itu pula, banyak dari mereka ternyata tidak mengikuti amalan para pendahulu yang sholeh, bahkan mereka merasa lebih baik dari generasi terdahulu, Naudzubillah.
silaturrahmi
@pakhanung: assalamualaikum
artikel yang bagus, aku dapat pelajran dari sini… sering-sering ke sini ah, biar pengetahuan agamanya nambah
Pendapat Ahlus Sunnah tentang Imam Mahdi
Ahlus Sunnah meyakini akan datangnya Imam al-Mahdi di akhir zaman, namun bukan seperti Al-Mahdi yang digambarkan oleh sٍyi’ah. Ahlus sunnah meyakini apa yang dikabarkan oleh Rasulullah صلى الله عليه وسلم sebagaimana apa yang diriwayatkan oleh Ibnu Mas’ud رضي الله عنه bahwa Beliau صلى الله عليه وسلم bersabda:
لاَ تَذْهَبُ الدُّنْيَا حَتَّى تَمْلِكَ الْعَرَبُ رَجُلٌ مِنْ أَهْلِ بَيْتِي، يُوَاطِئُ اسْمُهُ اسْمِي، وَاسْمُ أَبِيْهِ اسْمِ أَبِي، يَمَْلأُ اْلأَرْضُ عَدْلاً وَقَسْطً كَمَ مَلَئَتْ جِوَارُ وَظُلْمًا. (رواه أبو داود والترمذي، وحسنه الألالباني في مشكاة المصابيح)
Tidak akan hilang dunia hingga arab dikuasai oleh seorang dari Ahli Baitku, namanya mencocoki namaku dan nama bapaknya mencocoki nama bapakku. Dia akan memenuhi dunia dengan keadilan sebagaimana sebelumnya dipenuhi dengan kedzaliman dan kejahatan”(HR. Abu Dawud dalam kitabul mahdi 4/473, Tirmidzi dalam kitabul fitan bab ma ja’a fil mahdi 4505 dan beliau berkata hadits ini hasan shahih. Berkata Syaikh al-Albani: sanadnya hasan. Lihat Misykatul Mashabih 3/1501 hadits 5425).
Dalam hadits ini sangat jelas disebutkan bahwa Imam Mahdi akan muncul di akhir zaman dan namanya mencocoki nama Rasulullah صلى الله عليه وسلم dan nama bapaknya. Berarti Imam Mahdi adalah seorang yang dilahirkan seperti manusia pada umumnya yaitu dari seorang bapak yang bernama Abdullah, sehingga beliau dipanggil dengan nama Muhammad bin Abdillah, bukan Muhammad bin al-Hasan al-Asykari.
(sumber: http://www.salafy.or.id/print.php?id_artikel=1022)
Yang dimuliakan disini adalah Imam Mahdi, bukan para habib. Secara umum Habib adalah sebutan untuk orang yang mengaku sebagai Ahli Bait,namun tidak mempunyai kedudukan yang khusus. Rasulullah shalallahu alaihi wasalam tidak pernah merekomendasikan kalian wahai pengaku Ahlul Bait. Kita muliakan orang yang dimuliakan oleh Allah dan Rasul-Nya shalallahu alaihi wasalam. Untuk mengetahu lebih lanjut tentang ahlul bait silahkan baca buku yang telah saya rekomendasikan di atas
Menanggapi beberapa komentar yang sepertinya masih belum paham tentang siapa Ahlul Bait, berikut saya tambahkan artikel tentang kedudukan Ahli Bait agar lebih paham. Semoga Allah selalu memberikan hidayah kepada ana, antum dan seluruh kaum muslimin. Allahu yahdik:
Kedudukan Ahlul Bait
Kedudukan Ahlul Bait di sisi Allah dan Rasul-Nya amat mulia. Diantara kemuliaan itu adalah:
1. Allah bersihkan Ahlul Bait dari kejelekan. Dia shallallahu ‘alaihi wa sallam berfirman yang artinya:
“Hanyalah Allah menginginkan untuk membersihkan kalian (wahai) Ahlul Bait dari kejelekan dan benar-benar menginginkan untuk mensucikan kalian.” (Al-Ahzab:33)
2. Perintah Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk berpegang dengan bimbingan mereka. Beliau bersabda:
يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنِّي تَرَكْتُ فِيْكُمْ مَا إِنْ أَخَذْتُمْ بِهِ لَنْ تَضِلُّوْا: كِتَابَ اللهِ وَعِتْرَتِي أَهْلَ بَيْتِيْ
“Wahai manusia sesungguhnya aku telah meninggalkan sesuatu kepada kalian yang apabila kalian berpegang teguh dengannya, maka kalian tidak akan tersesat: Kitabullah dan Ahlul Bait-ku.” (HR. At-Tirmidzi dengan sanad shahih)
Oleh karena itu tidaklah ragu lagi, bahwa Ahlul Bait memiliki kedudukan yang sangat istimewa di sisi Allah dan Rasul-Nya.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata: “Dan tidak ragu lagi bahwa mencintai Ahlul Bait adalah wajib.” Al-Qadhi ‘Iyadh rahimahullah berkata: “Dan termasuk memuliakan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah berbuat baik kepada keluarga dan keturunan beliau.”
Para sahabat adalah orang-orang yang sangat memuliakan Ahlul Bait baik dari kalangan para sahabat sendiri maupun para tabi’in.
Demikianlah hendaknya sikap seorang muslim kepada mereka. Wajib atas dirinya untuk mencintai, menghormati, memuliakan dan tidak menyakiti mereka.
Namun sudah barang tentu, tolok ukur kecintaan terhadap mereka semata-mata karena iman dan kekerabatan mereka dengan Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tanpa iman tidak akan bermanfaat sama sekali kekerabatan seseorang dengan Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman yang artinya:
“Yaitu di hari (hari kiamat) yang harta dan anak keturunan tidak lagi bermanfaat. Kecuali seseorang yang menghadap Allah dengan hati yang lurus.” (Asy-Syu’ara`:88-89)
Demikian pula bila ada Ahlul Bait yang jauh dari sunnah Rasul, maka martabatnya di bawah seseorang yang berpegang teguh dengan sunnah Rasul, walaupun dia bukan Ahlul Bait. Allah berfirman yang artinya:
“Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa.” (Al-Hujurat:13)
Agar lebih jelas mengenal siapa Ahlul bait silahkan baca lanjutan artikel tersebut di : http://haulasyiah.wordpress.com/2007/06/22/cinta-palsu-syiah-terhadap-ahlul-bait/
Assalaamu’alaykum, Akhi
Seingat ana, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam kitab beliau Aqidah Wasithiyyah memiliki bab tentang kewajiban mencintai ahlu bait Rasulullah Shallallahu ‘alayhi wa Sallam. Ahlul bait tidak terbatas pada nama-nama di atas namun juga termasuk keturunan mereka. Hukum dasarnya adalah kita mencintai ahlul bait yang beriman karena hak mereka sebagai saudara seiman dan kekerabatan mereka dengan Rasulullah Shallallahu ‘alayhi wa Sallam.
Posting antum di sini bisa disalahpahami sebagai penghilangan hak ahlul bait yang beriman untuk dicintai karena kekerabatan mereka dengan Rasulullah. Padahal perkara ini termasuk aqidah ahlus sunnah wal jama’ah. Munculnya orang-orang yang mengklaim sebagai ahlul bait dan menyelisihi as-Sunnah tidaklah mengubah hukum dasar itu.
Yang penting adalah mengingatkan umat Islam agar segala sesuatu ditempatkan sesuai pandangan syari’at. Cinta kepada ahlul bait bukan berarti ahlul bait adalah ma’shum. Bukan berarti mereka bebas dari amar ma’ruf nahyu munkar.
Jika ada seorang muslim yang mengaku sebagai ahlul bait, berikanlah haknya sedapat mungkin. Jika ia berdusta akan nasabnya, dirinyalah yang akan mempertanggungjawabkannya karena mengubah nasab termasuk dosa besar.
Allahu Ta’ala a’lam.
Bismillah. Ana rasa postingan ana sudah cukup jelas, Bahkan sudah ana tambahkan beberapa artikel untuk memperjelas tentang Ahlul Bait. lihat tambahan komentar ana (sebelum komentar antum) di situ juga dikutip perkataan ibnu Taimiyah -rahimahullah-. ini ana tulis lagi:
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata: “Dan tidak ragu lagi bahwa mencintai Ahlul Bait adalah wajib.” Al-Qadhi ‘Iyadh rahimahullah berkata: “Dan termasuk memuliakan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah berbuat baik kepada keluarga dan keturunan beliau.”
Para sahabat adalah orang-orang yang sangat memuliakan Ahlul Bait baik dari kalangan para sahabat sendiri maupun para tabi’in.
Demikianlah hendaknya sikap seorang muslim kepada mereka. Wajib atas dirinya untuk mencintai, menghormati, memuliakan dan tidak menyakiti mereka.
Namun sudah barang tentu, tolok ukur kecintaan terhadap mereka semata-mata karena iman dan kekerabatan mereka dengan Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tanpa iman tidak akan bermanfaat sama sekali kekerabatan seseorang dengan Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman yang artinya:
“Yaitu di hari (hari kiamat) yang harta dan anak keturunan tidak lagi bermanfaat. Kecuali seseorang yang menghadap Allah dengan hati yang lurus.” (Asy-Syu’ara`:88-89)
Demikian pula bila ada Ahlul Bait yang jauh dari sunnah Rasul, maka martabatnya di bawah seseorang yang berpegang teguh dengan sunnah Rasul, walaupun dia bukan Ahlul Bait. Allah berfirman yang artinya:
“Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa.” (Al-Hujurat:13)
@Ahmad Ridha: Jazakallahu khoiron, terima kasih atas nasehatnya.
@akh alfa reyhan: berikut Nasehat oleh Ustadz Abu Muhammad, Dzulqornain tentang kandungan Hadits yang antum bawakan. Haditsnya adalah:
كل سبب و نسب منقطع يوم القيامة ، إلا سببي و نسبي
“Setiap sebab dan nasab terputus pada hari kiamat kecuali sebab dan nasabku.”
Hadits di atas diriwayatkan oleh sejumlah shohabat. Uraian jalan-jalannya diterangkan oleh Syaikh Al-Albany dalam Silsilah Ahadits Ash-Shohihah no. 2036 dan Syaikh Jasim Ad-Dausary dalam Tahqiq Fawaid At-Tammam no. 1487.
Syaikh Al-Albany menyimpulkan bahwa hadits adalah shohih.
Namun kandungan dari hadits di atas menunjukkan keutamaan keturunan dan nasab Nabi shollallahu alaihi wa sallam. Tapi bukan artinya bahwa keturunan Nabi dijamin masuk sorga, atau bisa mendatangkan berkah… dan seterusnya dari keyakinan-keyakinan salah dalam hal ini.
Harus diketahui bahwa keturunan dan nasab tidaklah bermanfaat bagi siapa yang bermaksiat dan menyelisihi Allah dan Rasul-Nya. Perhatikan bagaimana anak Nabi Nuh alaihissalam dibinasakan dan tidak tidak diampuni baginya, padahal ayahnya telah berdoa untuknya. Namun hal tersebut tidak diterima bahkan Allah menegur beliau. Kisah tersebut dalam firman-Nya,
“Dan Nuh berseru kepada Tuhannya sambil berkata: “Ya Tuhanku, sesungguhnya anakku termasuk keluargaku, dan sesungguhnya janji Engkau itulah yang benar. Dan Engkau adalah Hakim yang seadil-adilnya.” Allah berfirman: “Hai Nuh, sesungguhnya dia bukanlah termasuk keluargamu (yang dijanjikan akan diselamatkan), sesungguhnya (perbuatan)nya perbuatan yang tidak baik. Sebab itu janganlah kamu memohon kepada-Ku sesuatu yang kamu tidak mengetahui (hakekat)nya. Sesungguhnya Aku memperingatkan kepadamu supaya kamu jangan termasuk orang-orang yang tidak berpengetahuan.”.” [Hud :45-46]
Wallahu A’lam
sumber : http://groups.yahoo.com/group/nashihah/message/1311
[...] Posted by pakisbintaro on May 25, 2009 Bismillah. Sehubungan dengan tulisan ana di blog ana yaitu tentang Kedudukan Habib dalam Islam [...]